KAJIAN SENI RUPA DAN DESAIN 6

 Analisa Karya Heri Dono Menggunakan Teori Erwin Panofsky

 



Erwin Panofsky

Erwin Panofsky, lahir 30 Maret 1892, Hannover, Jerman, meninggal 14 Maret 1968, Princeton, New Jersey, AS), sejarawan seni Jerman-Amerika yang terkenal karena studinya di bidang ikonografi (studi tentang simbol dan tema dalam karya  seni).

Erwin Panofsky dalam pemikirannya dibuku Meaning in the Visual Art (1955) mengklaim bahwa ikonografi bersifat deskriptif dan classificatory, sedangkan ikonologi bersifat identifikasi. Panofsky menjelaskan tiga pemaknaan karya seni. Pertama, deskripsi pra-ikonografis menangkap pemaknaan pertama (primer) suatu karya seni dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk yang masih murni seperti konfigurasi garis, warna. Bentuk-bentuk itu dianggap sebagai representasi suatu obyek alamiah.

 

LUKISAN KUASA TAHTA KARYA HERI DONO MENGGUNAKAN ANALISIS TEORI ERWIN PANOFSKY

Lukisan “kuasa-tahta” karya Heri Dono dibuat pada tahun 2014, lukisan tersebut dibuat dengan ukuran 300 cm x 200 cm pada kanvas menggunakan akrilik. Lukisan tersebut menampilkan subjek mater mahluk berkaki empat menyerupai kuda dan berkepala manusia. Mahluk pada lukisan tersebut digambarkan memiliki dua kepala yang terdapat pada bagian depan dan belakang yang masing-masing memiliki tangan lengkap.

Mahluk pada lukisan tersebut digambarkan memiliki dua kepala yang terdapat pada bagian depan dan belakang yang masing-masing memiliki tangan lengkap. Kepala pada bagian depan memiliki mata lima, lidah menjulur kedepan, bertanduk serta memiliki mahkota berwarna merah dan menghadap kebelakang, sementara kepala bagian belakang menghadap kedepan. Digambarkan memiliki badan, lidah menjulur. Pada bagian belakang terdapat sesosok manusia yang digambarkan secara lengkap bertopi, bersayap dan mengenakan sepatu, serta membawa pistol dan pisau.

 

Pra-ikonografis Lukisan Kuasa Tahta

Karya Heri dono tersebut di sajikan dalam komposisi horizontal, dengan subjek metter memenuhi bidang kanvas. Pilihan warna pada karya lukis Heri Dono bukan warna-warna yang murni, akan tetapi pilihan warna yang merupakan perpaduan dari warna putih dan hitam. Warna tersebut di antaranya campuran warna biru pada begrond yang sedikit keputihan serta warna biru putih yang monokrom dengan warna begrond yang disapukan mengelilingi subjek matter. Pada subjek matter, pilihan-pilihan warna banyak dipadukan dengan warna hitam dan putih. Apabila dicermati pewarnaan demikian tidak hanya diterapkan pada karya “kuasa-tahta”, tetapi juga pada karya lukis lainnya dengan cirihas sapuan yang ekspresif

Pada lukisan “kuasa-tahta”, pewarnaan dengan teknik demikian memberi kesan dinamis. Meskipun pilihan warna pada lukisan merupakan warna komplemen, (dalam hal ini warna merah dan hijau), Heri Dono berusaha mengurai kesan warna komplemen tersebut menjadi perpaduan warna yang dinamis. Warna hijau pada lukisan dipadukan dengan warna lain seperti merah, putih, hitam; begitu pula pada warna merah, warna merah tidak dinyatakan murni merah melainkan dipadukan dengan warna-warna lain seperti hitam putih dan sedikit hijau

Komposisi asimetri pada lukisan ini disusun secara menarik apabila dilihat.Kecenderungan untuk memenuhi bidang kanvas dan pemanvaatan ruang-ruang koson di isi dengan bentuk-bentuk visual yang menarik sekaligus mendukung maksud dari lukisan tersebut.

 

Ikonografi Lukisan Kuasa Tahta

Karya kuasa-tahta yang di ungkapkan oleh Heri Dono memiliki Subjek matter berupa dua manusia pada satu tubuh (hewan menyerupai kuda berkaki empat). Manusia pertama merupakan manusia dengan mata lima, manusia ini digambarkan sebagai pemilik tubuh bagian depan pada bagian tubuhnya tertera tulisan tahta dan terdapat symbol garuda di atasnya serta pada bagian kaki tertera tulisan kuasa sepertinya seniman berusaha menggambarkan pada bagian depan merupakan bagian yang menggambarkan pemerintah yang memiliki kuasa. Bagian belakang sebagai pemilik bagian tubuh belakang apabila melihat pada kehidupan nyata badian depan merupakan kuasa seperti kendaraan orang yang mengendarai merupakan pemilik penguasa dari apa yang dikendarainya sedangkan bagian belakang adalah bagian penumpang yang kedudukannya bergantung pada pengendara. Sebenarnya sebagai penumpang juga memiliki kuasa intuk berpendarat.

Pada lukisan tersebut tergambar kedua tokoh yang berada dalam satu badan tersebut terlibat dalam perdebatan yang sengit, keduanya saling mengolok-olok hal tersebut tergambar pada kedua tukoh yang ludahnya saling menjulur, diatas kepalanya terdapat pipi yang saling mengeluarkan asap yang dapat dipahami sebagai perdebatan yang tiada henti, keduanya saling menghina dan saling mengejek.

Karya tersebut diciptakan mewakili keadaan pada tahun yang sama dan melatarbelakangi penciptaan karya tersebut. Melalui karya tersebut penikmat dapat merasakan keadaan politik yang serba bersaing kekuasaan, perebutan tahta, semua tergambar dalam dengan gaya ungkap Heri Dono yang jenaka dan penuh simbol sehingga membawa penikmat untuk seolah melihat kejadian lucu tersebut.

 

Pemaknaan Intrinsik Lukisan Kuasa Tahta

Karya lukis Heri Dono yang bertajuk Kuasa-tahta tersebut digambarkan secara sederhana meskipun demikian karya tersebut mampu mendorong serta membewa perasaan para apresiator pada permasalahan yang dibawakan. Dalam proses penanaman nilai secara oprasional tersebut, lukisan dengan tema “Kuasa-tahta” menjalankan misinya untuk berpendapat. Karya tersebut sarat dengan pesan dan makna yang akan disampaikan dengan bahasa-bahasa simbol. Lukisan tersebut mengajak para penikmat untuk memahami kejadian atau isu tersebut pada masa kini yang penuh dengan dilemma kekuasaan. Karya tersebut juga mewakili cara pandang, sikap serta penilaian Heri Dono terhadap isu yang berkembang dewasa ini.

 

Kesimpulan

Karya Heri Dono merupakan karya yang berkualitas, ciri khas wayang dan kartun dalam ungkapan percakapan naratif merupakan karya yang memiliki nilai budaya sekaligus ungkapan yang sangat personal sehingga membuat karyanya sangat orisinil. Komposisi dan perwujudan unsur-unsur visual dalam likisan ini juga disusun dengan pertimbangan yang menarik, lukisan tersebut juga penuh dengan pesan moral meskipun dikemas dalam sebuah narasi yang penuh celotehan. Heri Dono selalu melukis dengan mengaitkan pada simbol, dan pintar dalam memanfaatkan bidang kosong menjadi unsur visual yang memiliki makna sekaligus mendukung keberadaan pesan yang ingin disampaikan dengan gaya ungkap tersebut mampu mampu membawa penikmat pada kontek yang dibawakan.

 

ANDIKA KRISSANTO

201946500026

 

 

Komentar

Postingan Populer